Setiap kali kalender Hijriah menunjuk angka 12 Rabi’ul Awwal, ruang-ruang publik kita riuh oleh perayaan. Panggung didirikan, sholawat dilantunkan, dan linimasa media sosial dipenuhi oleh ucapan selamat memperingati Maulid Nabi. Namun, di balik gegap gempita seremonial tersebut, ada satu realitas pahit yang jarang kita sadari: kita sering kali terjebak pada perayaan tanggal, namun luput membaca konteks besar di baliknya.
Generasi update hari ini diajak untuk sekadar meramaikan hari lahir Sang Nabi sebagai sebuah tren tahunan. Padahal, jika kita menggunakan pisau analisis Iqro untuk membedah sejarah, kita akan menemukan sebuah distorsi kesadaran yang cukup mendasar.
Dua Sisi Kelahiran: Fisik dan Ideologis
Secara harfiah, Maulid memang berarti waktu kelahiran. Tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 53 Sebelum Hijrah adalah hari di mana seorang bayi suci bernama Muhammad bin Abdullah lahir secara fisik ke muka bumi. Tentu, ini adalah momen agung yang pantas disyukuri, karena ia adalah pra-syarat bagi turunnya risalah.
Namun, mari kita renungkan secara mendalam. Pada hari itu, eksistensi kenabian belum dimulai.
Jika 12 Rabi’ul Awwal adalah hari kelahiran entitas fisik, maka ada satu hari lain yang makna filosofisnya sering kali direduksi oleh umat, yakni 17 Ramadhan. Pada tanggal inilah, di dalam gua yang gelap dan sunyi, terjadi sebuah mitsaq (perjanjian atau pengangkatan) yang mengguncang semesta. Pada 17 Ramadhan 13 Sebelum Hijrah, Muhammad bin Abdullah "dilahirkan kembali" menjadi Muhammad Rasulullah ﷺ.
Inilah proklamasi yang sesungguhnya. Inilah momen di mana komunikasi antara langit dan bumi yang sempat terputus, kembali tersambung.
Merayakan Kesadaran, Bukan Sekadar Kalender
Bagi generasi sadar, 17 Ramadhan bukanlah sekadar peringatan Nuzulul Qur'an yang dirayakan lewat pidato-pidato formalistik. Ia adalah peringatan atas sebuah "dekrit ideologis" yang menandai titik nol peradaban Islam. Itulah kelahiran spiritual yang mengakhiri masa kegelapan umat manusia.
Kita tidak sedang membenturkan kedua tanggal ini. Kita sedang merebut kembali kedaulatan akal sehat dalam beragama. Merayakan 12 Rabi’ul Awwal berarti mensyukuri hadirnya sosok manusia paling mulia yang membawa terang. Namun, merayakan 17 Ramadhan berarti menghidupkan kembali "terang" itu sendiri di dalam nalar dan nurani kita.
Menjadi generasi sadar berarti menolak beragama secara dangkal. Jangan sampai kita menangis haru di majelis Maulid, namun di kehidupan nyata kita mengkhianati misi perlawanan Rasulullah terhadap kebodohan, hoaks, dan kejahiliyah modern. Mari kita rayakan kelahiran fisik beliau dengan sholawat, dan kita rayakan "kelahiran" risalah beliau dengan ketaatan nalar dan amal.
Lanjutkan Membaca
Materi ini eksklusif untuk jamaah dan member terdaftar. Masuk sekarang untuk membaca selengkapnya, menyimpan materi, dan berdiskusi.
Sudah punya akun? Masuk di sini