The calls of Ramadan

13 Mar 2026 5 mnt baca 27x dibaca
The calls of Ramadan

The Call of Ramadan


"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bershaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

(QS. Al-Baqarah: 183)


Tidak setiap perjalanan dimulai dengan langkah.

Sebagiannya dimulai dengan sebuah panggilan.

Begitulah Ramadan.

Ia bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah.

Ia adalah panggilan yang menggema di dalam hati

panggilan untuk memulai perjalanan menuju puncak ketakwaan.


Sebuah perjalanan menuju puncak yang dijanjikan penuh keberkahan, rahmat, dan ampunan bagi mereka yang bersedia menapakinya.


Ramadan ibarat sebuah gunung tinggi yang menjadi tujuan para pencari makna.

Gunung yang menjulang, menantang, dan memanggil jiwa-jiwa yang berani mendakinya.


Di balik jalur terjalnya tersembunyi keindahan yang tidak semua orang mampu mencapainya.

Hamparan danau yang tenang tertutup kabut sejuk khas pegunungan.

Di suatu tempat yang tersembunyi dari pandangan biasa, taman bunga abadi yang hanya mekar pada satu malam hingga fajar menjelang

sebuah malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.


Namun tidak semua orang yang melihat gunung itu benar-benar mau mendakinya.

Sebagian hanya memandang dari kejauhan.

Sebagian merasa puncaknya terlalu tinggi.

Sebagian lagi bahkan tidak menyadari bahwa gunung itu sedang memanggil mereka.

Tetapi bagi jiwa yang benar-benar terpanggil, sesuatu di dalam hatinya mulai bergerak.

Ia mulai mempersiapkan perjalanannya.

Ia menguatkan fisiknya.

Ia meneguhkan mentalnya.

Dan yang paling penting, ia membersihkan niatnya.

Sebab setiap perjalanan menuju puncak terbaik selalu menuntut pengorbanan yang terbaik pula.

Dan di titik inilah perjalanan sebenarnya dimulai

bukan ketika kaki mulai melangkah,

melainkan ketika hati menjawab panggilan itu.


A Journey to the Summit of Taqwa


Hati yang terpanggil akan bersiap.

Langkah pertama dari perjalanan ini adalah menahan diri

sebuah latihan yang disebut shaum.

Dari sinilah pendakian menuju puncak ketakwaan benar-benar dimulai.


Seorang pendaki tidak dapat membawa semua yang ia inginkan menuju puncak.

Ada beban yang harus ditinggalkan.

Ada keinginan yang harus dikendalikan.

Dan ada kenyamanan yang harus dilepaskan.


Demikian pula shaum.

Ia mengajarkan manusia menahan lapar dan haus, bukan sekadar sebagai ujian fisik, tetapi sebagai latihan menundukkan diri di hadapan Allah.

Di sepanjang perjalanan ini, seorang pendaki akan belajar satu kenyataan penting:

Yang paling berat dalam pendakian bukanlah jalurnya,

melainkan dirinya sendiri.


Ego yang ingin menang sendiri.

Nafsu yang ingin selalu dipenuhi.

Dan hati yang mudah lalai.

Ramadan hadir untuk melatih manusia menaklukkan dirinya sendiri.


Dalam perjalanan ini, seorang pendaki tidak berjalan tanpa tempat singgah.

Ada beberapa shelter spiritual yang menguatkan langkahnya menuju puncak.


Shelter pertama yang paling sering disinggahi para pendaki Ramadan adalah shalat.

Seperti seorang pendaki yang membawa kompas agar tidak tersesat di tengah hutan dan kabut, shalat menjaga arah perjalanan seorang hamba agar tetap menuju Allah.


Di tengah lelahnya perjalanan, shalat menjadi tempat berhenti sejenak

meluruskan niat,

menenangkan hati,

dan meneguhkan langkah untuk melanjutkan pendakian.


Perjalanan kemudian membawa para pendaki menuju shelter berbagi.

Dalam perjalanan panjang, para pendaki sering berbagi air, makanan, dan tenaga dengan sesama.

Tidak ada yang benar-benar mendaki sendirian.


Demikian pula di bulan Ramadan.

Seorang hamba belajar berbagi melalui zakat dan sedekah

membersihkan hartanya sekaligus meringankan langkah orang lain di perjalanan yang sama.


Summit Attack


Semakin mendekati puncak, suasana mulai berubah.

Udara terasa lebih sunyi.

Langit malam terasa lebih dekat.

Dan hati para pendaki mulai dipenuhi harapan.

Di sanalah mereka menantikan sebuah malam yang istimewa

malam yang seperti taman bunga yang hanya mekar di malam yang terjaga.

Malam itu adalah Lailatul Qadr.

Anugerah bagi mereka yang tetap bertahan di jalur pendakian hingga akhir.


Di malam yang hening itu, hembusan angin dan cahaya bulan menjadi saksi bagi jiwa-jiwa yang bermunajat kepada Tuhannya.

Jiwa yang menengadahkan tangan ke langit dengan bisikan yang lirih:

"Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni."


The Death Zone

Di sepertiga akhir perjalanan, para pendaki memasuki fase yang dalam dunia pendakian dikenal sebagai death zone.

Sebuah wilayah di ketinggian ekstrem, di mana udara semakin tipis dan setiap langkah terasa jauh lebih berat.

Di zona ini, seorang pendaki tidak bisa berjalan dengan santai.

Ia harus benar-benar fokus.

Satu langkah yang salah saja bisa berakibat fatal.

Ia harus menjaga tenaga yang tersisa dan memastikan setiap langkahnya benar-benar mengarah ke puncak.

Demikian pula perjalanan Ramadan.

Ketika sepuluh malam terakhir tiba, seorang hamba seakan memasuki death zone spiritual.

Waktu terasa semakin menyempit

Tenaga mulai melemah.

Namun justru di sinilah penentuan perjalanan terjadi.

Apakah ia akan meraih kemenangan Idul Fitri,

atau hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata.


Summit Attack bukan wahana menikmati keindahan dunia dari puncak bayangan

Justru usaha dipenghujung waktu ramadan dengan seluruh kekuatan yang tersisa untuk mencapai puncak utama.


Tidak semua mampu bertahan di fase ini.

Sebagian mulai tertinggal di jalur pendakian.

Sebagian teralihkan oleh keindahan alam yang bisa membuatmu salah berpijak dan jatuh ditebing jurang

Sebagian lainnya terserang hipotermia akibat ujub terhadap alam


Namun bagi mereka yang melangkah dengan khusyu'

yang bertahan dalam doa,

yang sujud dan ruku menghadap tujuan

puncak itu semakin dekat.


The Summit / Idul Fitri


Sampai langkah itu menemukan titik cahaya emas diufuk timur

hati para pendaki tidak lagi mampu menahan gemuruh takbir di dalam dada.


Allahu Akbar… Allahu Akbar…


Ia adalah titik klimaks rasa syukur setelah perjalanan panjang yang penuh perjuangan.


Air mata perlahan jatuh seiring tahmid menutup kata yang terucap

Perjalanan yang diwarnai lelah dan nikmat itu kini berada di penghujung langkahnya

sebuah perjalanan yang tidak hanya menguras tenaga, tetapi mengembalikan diri kepada makna hidup.

kembali kedalam kesadaran fitrah manusia sebagai makhluk kecil dengan mandat yang besar

Sebagai hamba, sebagai perantara titah-Nya.

"Fa aqim wajhaka lidiini haniifaa"



Buah dari Pendakian Ramadan


Dari perjalanan pendakian Ramadan ini, seorang mukmin diharapkan meraih beberapa kesadaran penting.


Pertama

menyadari bahwa kehidupan seorang mukmin adalah perjalanan mendaki menuju ketakwaan.

Ia tidak boleh cepat merasa puas.

Ia tidak berhenti pada satu kebaikan.

Ia terus mendaki, terus memperbaiki diri, dan terus meningkatkan rasa syukurnya kepada Allah.


Kedua

meraih ampunan Allah

terutama melalui anugerah Lailatul Qadr.

Pada fase inilah seorang hamba diberi ruang untuk bermuhasabah, memperbaiki diri, dan menata kembali arah kehidupannya melalui ibadah, doa, dan i'tikaf.


Ketiga

membentuk pribadi yang lebih sabar, lebih kuat menahan diri, dan lebih dekat kepada Allah.

Sehingga ketika Ramadan berakhir, ia tidak turun dari gunung kehidupan sebagai orang yang sama.

"A'zhomu darojatan 'ingdalloh, wa ulaaika humul faaizuun"

Lanjutkan Membaca

Materi ini eksklusif untuk jamaah dan member terdaftar. Masuk sekarang untuk membaca selengkapnya, menyimpan materi, dan berdiskusi.

Sudah punya akun? Masuk di sini

"Tulisan ini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis. Platform IQRO tidak bertanggung jawab atas validitas isi, pelanggaran hak cipta, maupun dampak hukum yang ditimbulkan dari artikel ini."
Wawan Firmansyah

Ditulis oleh

Wawan Firmansyah

Penulis belum melengkapi biografi singkatnya. Namun, karya-karyanya di platform IQRO menjadi bukti dedikasi semangat literasinya.

Komentar (2)

Silakan Masuk untuk ikut berdiskusi.

Alhamdulillah.. Sungguh tulisan bermakna yang lahir dari relung jiwa.. 👍👍👍 Semoga menginspirasi generasi muda kini dan nanti Semoga Istiqomah brothers.. 🙏🙏🙏

6 hours ago Suka Balas

Jazakallahu khair 🤝 Aamiin 🤲🏻

5 hours ago
1