The Calls of Ramadan: Hanya orang "bodoh" yang menjawab panggilan-Nya

14 Mar 2026 3 mnt baca 13x dibaca
The Calls of Ramadan: Hanya orang "bodoh" yang menjawab panggilan-Nya

Ketika televisi mulai menayangkan iklan sirup Marjan

Ketika buah kurma mulai memenuhi etalase para pedagang

Ketika mimbar-mimbar masjid kembali dipenuhi seruan:

"Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām..."(QS. 2: 183)

Ketik para pemimpin umat mulai menyerukan “kutiba ‘alaikumush-shiyām”,

Dan ketika kumandang adzan Isya berbalas dengan penuhnya rak-rak sandal di setiap masjid

saat itulah semua orang tahu

bulan suci Ramadan telah tiba

Ramadan selalu datang dengan tanda-tandanya sendiri

Begitu kuat daya tarik Ramadan

hingga ia mampu memanggil siapa saja

bahkan mereka yang di dalam hatinya belum sepenuhnya hadir keimanan

Sebuah panggilan yang tidak semua orang berani menjawabnya

Orang yang merasa "pintar" akan menimbangnya dengan logika dan perhitungan

Orang yang dianggap "bodoh" justru menerimanya dengan hati

yang rela menahan lapar dan dahaga,

mengorbankan waktu, tenaga dan keinginan dirinya

demi menjawab panggilan itu

"terimalah seruan-Ku, Aku akan memperbaikimu"


Ramadan adalah panggilan yang halus tetapi dalam

Panggilan yang mengajak untuk berhenti sejenak dari kesibukan hidupnya

Untuk bertanya kembali tentang dirinya

Tentang ke mana hidup ini berjalan

Tentang apa yang sebenarnya sedang ia cari

Karena jauh sebelum manusia sibuk memperbaiki dunia, ada satu hal yang sering terlupakan

memperbaiki dirinya sendiri

Ramadan datang seolah membawa pesan sederhana:

berhentilah sejenak

Lihatlah kembali hidupmu

Apakah akalmu masih mencari kebenaran atau hanya membela keyakinanmu sendiri?

Apakah hidupmu masih mencari makna atau hanya mengejar pengakuan?

Apakah keputusanmu masih dipandu oleh petunjuk, atau oleh keinginanmu sendiri?

Apakah hatimu masih terbuka terhadap kebenaran, atau sudah tertutup oleh fanatisme?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu nyaman apalagi bagi si "pintar"

Tetapi justru dari pertanyaan itulah perjalanan perubahan dimulai

Perjalanan keluar dari kegelapan menuju cahaya


Al-Qur’an mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar tentang manusia.

“Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”(QS. 33:72)

Ayat ini bukan sekedar kritik terhadap manusia

Ia adalah cermin

Cermin yang menunjukkan dari mana perjalanan manusia sebenarnya dimulai

Al-Qur’an mengingatkannya pada petunjuk

Shalat mengajaknya kembali tunduk

Shaum menjaganya dari nafsu jahat

Zakat membersihkan dosa dan hartanya

Semua ibadah itu seakan berkata kepada manusia:

mulailah kembali

Mulailah kembali dari kesadaran bahwa manusia tidak tahu segalanya

Mulailah kembali dari kerendahan hati untuk belajar

Mulailah kembali dari keberanian untuk mengoreksi diri

bahwa ia masih belum tahu banyak hal

Bahwa hidupnya masih perlu diperbaiki

Bahwa hatinya masih perlu dibersihkan


Ya Rabbi

panggillah aku di pagi hari yang Engkau berkahi.

Ya Rabbi

panggillah aku di siang hari ketika Engkau menampakkan kebenaran dari kegelapan

Ya Rabbi

panggillah aku di waktu sore yang Engkau jadikan pengingat akan berakhirnya kehidupan

Ya Rabbi

panggillah aku pada saat Engkau menyempurnakan pahala shaum

Ya Rabbi

panggillah aku di malam yang terjaga dengan cahaya qadr

Ya Rabbi

panggillah aku dengan Ramadan

Agar aku beranjak dari kejahiliyahan melalui Nuzulul Qur'an

Agar aku berani memperjuangkan kebenaran sebagaimana para pejuang Badr

Agar aku meraih kemenangan bersama orang-orang yang Engkau muliakan pada hari Fathu Mekkah


Ya Rabbi

jika aku tidak mampu meraih semua itu

maka jadikan aku orang yang bodoh dalam berbuat dosa dan tak pernah pintar untuk meninggalkan-Mu

Lanjutkan Membaca

Materi ini eksklusif untuk jamaah dan member terdaftar. Masuk sekarang untuk membaca selengkapnya, menyimpan materi, dan berdiskusi.

Sudah punya akun? Masuk di sini

"Tulisan ini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis. Platform IQRO tidak bertanggung jawab atas validitas isi, pelanggaran hak cipta, maupun dampak hukum yang ditimbulkan dari artikel ini."
Wawan Firmansyah

Ditulis oleh

Wawan Firmansyah

Penulis belum melengkapi biografi singkatnya. Namun, karya-karyanya di platform IQRO menjadi bukti dedikasi semangat literasinya.

Komentar (0)

Silakan Masuk untuk ikut berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan ilmiah.