Ketika televisi mulai menayangkan iklan sirup Marjan
Ketika buah kurma mulai memenuhi etalase para pedagang
Ketika mimbar-mimbar masjid kembali dipenuhi seruan:
"Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām..."(QS. 2: 183)
Ketik para pemimpin umat mulai menyerukan “kutiba ‘alaikumush-shiyām”,
Dan ketika kumandang adzan Isya berbalas dengan penuhnya rak-rak sandal di setiap masjid
saat itulah semua orang tahu
bulan suci Ramadan telah tiba
Ramadan selalu datang dengan tanda-tandanya sendiri
Begitu kuat daya tarik Ramadan
hingga ia mampu memanggil siapa saja
bahkan mereka yang di dalam hatinya belum sepenuhnya hadir keimanan
Sebuah panggilan yang tidak semua orang berani menjawabnya
Orang yang merasa "pintar" akan menimbangnya dengan logika dan perhitungan
Orang yang dianggap "bodoh" justru menerimanya dengan hati
yang rela menahan lapar dan dahaga,
mengorbankan waktu, tenaga dan keinginan dirinya
demi menjawab panggilan itu
"terimalah seruan-Ku, Aku akan memperbaikimu"
Ramadan adalah panggilan yang halus tetapi dalam
Panggilan yang mengajak untuk berhenti sejenak dari kesibukan hidupnya
Untuk bertanya kembali tentang dirinya
Tentang ke mana hidup ini berjalan
Tentang apa yang sebenarnya sedang ia cari
Karena jauh sebelum manusia sibuk memperbaiki dunia, ada satu hal yang sering terlupakan
memperbaiki dirinya sendiri
Ramadan datang seolah membawa pesan sederhana:
berhentilah sejenak
Lihatlah kembali hidupmu
Apakah akalmu masih mencari kebenaran atau hanya membela keyakinanmu sendiri?
Apakah hidupmu masih mencari makna atau hanya mengejar pengakuan?
Apakah keputusanmu masih dipandu oleh petunjuk, atau oleh keinginanmu sendiri?
Apakah hatimu masih terbuka terhadap kebenaran, atau sudah tertutup oleh fanatisme?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu nyaman apalagi bagi si "pintar"
Tetapi justru dari pertanyaan itulah perjalanan perubahan dimulai
Perjalanan keluar dari kegelapan menuju cahaya
Al-Qur’an mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar tentang manusia.
“Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”(QS. 33:72)
Ayat ini bukan sekedar kritik terhadap manusia
Ia adalah cermin
Cermin yang menunjukkan dari mana perjalanan manusia sebenarnya dimulai
Al-Qur’an mengingatkannya pada petunjuk
Shalat mengajaknya kembali tunduk
Shaum menjaganya dari nafsu jahat
Zakat membersihkan dosa dan hartanya
Semua ibadah itu seakan berkata kepada manusia:
mulailah kembali
Mulailah kembali dari kesadaran bahwa manusia tidak tahu segalanya
Mulailah kembali dari kerendahan hati untuk belajar
Mulailah kembali dari keberanian untuk mengoreksi diri
bahwa ia masih belum tahu banyak hal
Bahwa hidupnya masih perlu diperbaiki
Bahwa hatinya masih perlu dibersihkan
Ya Rabbi
panggillah aku di pagi hari yang Engkau berkahi.
Ya Rabbi
panggillah aku di siang hari ketika Engkau menampakkan kebenaran dari kegelapan
Ya Rabbi
panggillah aku di waktu sore yang Engkau jadikan pengingat akan berakhirnya kehidupan
Ya Rabbi
panggillah aku pada saat Engkau menyempurnakan pahala shaum
Ya Rabbi
panggillah aku di malam yang terjaga dengan cahaya qadr
Ya Rabbi
panggillah aku dengan Ramadan
Agar aku beranjak dari kejahiliyahan melalui Nuzulul Qur'an
Agar aku berani memperjuangkan kebenaran sebagaimana para pejuang Badr
Agar aku meraih kemenangan bersama orang-orang yang Engkau muliakan pada hari Fathu Mekkah
Ya Rabbi
jika aku tidak mampu meraih semua itu
maka jadikan aku orang yang bodoh dalam berbuat dosa dan tak pernah pintar untuk meninggalkan-Mu
Lanjutkan Membaca
Materi ini eksklusif untuk jamaah dan member terdaftar. Masuk sekarang untuk membaca selengkapnya, menyimpan materi, dan berdiskusi.
Sudah punya akun? Masuk di sini